Urbanhire Jobseeker

Cara Mengatur Karyawan Multigenerasi di Tempat Kerja

19

Jul 2019

Blog

Urbanhire – Bukan merupakan situasi yang baru ketika memiliki karyawan multigenerasi dalam satu perusahaan, terlebih tim yang sama, akan menimbulkan banyak konflik. Potensi tersebut akhirnya membuat banyak perusahaan memilih untuk mempekerjakan satu generasi saja. Sebenarnya apa yang memicu konflik tersebut dan cara menanganinya? Apakah baik jika perusahaan menolak mempekerjakan pegawai lintas generasi?

Klasifikasi Generasi Pekerja

Sebelum membahas tentang pemicu masalah pegawai antar generasi, Anda perlu tahu dulu tentang klasifikasi antar generasi tersebut. Secara teknis, generasi pekerja terbagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. Generasi Tua, yaitu pekerja dalam medio akhir usia produktif. Mereka umumnya telah mengabdi dalam waktu yang lama pada perusahaan. Namun, bisa juga mereka merupakan pendatang yang baru direkrut berdasarkan sepak terjangnya dengan tujuan memajukan perusahaan.
  2. Generasi Transisi merupakan pegawai yang secara usia berada pada skala menengah dari usia produktif. Mereka merupakan golongan karyawan yang paling toleran pada dua generasi lain. Sebab, mereka memahami pola pikir keduanya dan seringkali bersikap menjadi penengah.
  3. Generasi Millennial adalah golongan karyawan pada awal usia produktif. Acap kali, mereka dianggap sebagai ‘bayi’ dalam sebuah perusahaan karena minim pengalaman kerja.

Faktor Pemicu Konflik Pegawai Multigenerasi

Ada banyak sekali alasan yang melatarbelakangi munculnya konflik antar karyawan lintas generasi. Faktor-faktor tersebut meliputi :

Superioritas

Faktor yang paling sering menjadi sumber masalah karyawan multigenerasi adalah superioritas. Hal ini biasanya menjangkiti generasi tua dan transisi terhadap kelompok millennial di kantor. Mereka merasa lebih tua secara usia di mana acap dijadikan tolak ukur kualitas kerja seseorang. Mereka juga merasa secara pengalaman mereka lebih mumpuni dibandingkan generasi millennial.

Kesempatan / Chance

Pihak perusahaan sering kali tidak adil dalam memberikan kesempatan terhadap para karyawan. Hal semacam ini juga mudah menimbulkan konflik. Terutama bila peluang yang ada cenderung didasarkan pada masa pengabdian terhadap perusahaan. Situasi tersebut tentu sangat merugikan bagi generasi milenial. Sebab, dalam banyak kesempatan, mereka tidak diberi peluang tersebut.

Kepercayaan / Believe

Keyakinan bahwa generasi millennial perlu banyak belajar dari seniornya sebelum dipercaya mengerjakan sebuah tugas berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial. Selain itu juga dapat memunculkan benih kebencian antar generasi. Hal seperti ini merupakan insiden yang biasa terjadi di kantor, namun bila tidak segera ditangani dapat menghasilkan perseteruan hebat.

Ketidakmauan Saling Merangkul

Ego antar karyawan lintas generasi sangat tinggi. Mereka cenderung berkelompok dengan sesamanya. Misalkan generasi tua dengan yang tua, millennial pun tetap dengan golongannya. Zona nyaman tersebut membuat masing-masing generasi menolak untuk membangun hubungan sosial yang harmonis. Hal semacam itu rentan menimbulkan masalah karena tidak adanya kedekatan emosional antar karyawan multigenerasi.

Tips Menangani Karyawan Lintas Generasi Agar Lingkungan Kerja Harmonis

Lalu, bagaimana cara mengatasi konflik yang muncul antar karyawan multigenerasi? Di bawah ini merupakan beberapa metode yang terbukti efektif dalam meredakan problematika tersebut:

1. Buat Forum Karyawan

Cara pertama untuk meningkatkan keharmonisan di antara pegawai, khususnya antar generasi, adalah dengan membuat forum karyawan. Maksudnya, sebuah komunitas yang menjadi wadah menjalin komunikasi secara terbuka dengan sesama pegawai, tanpa perlu mengontak secara pribadi. Dengan demikian, prasangka yang mungkin tercipta melalui komunikasi privat bisa dihindari dan merekatkan pegawai secara keseluruhan.

2. Metode Partner Silang

Selanjutnya, untuk meminimalisir kesenjangan antara pegawai senior dengan junior, lakukan metode partner silang. Maksudnya, dalam sebuah tim, jangan memasangkan generasi tua dengan sesamanya. Sebaliknya, gabungkan tiga macam generasi sekaligus. Dengan demikian, senior dapat berbagi pengalaman, sedangkan junior yang lebih fasih dalam teknologi pun dapat membantu dalam bidang terkait.

3. Menggelar Membership Training (MT)

Membership training (MT) merupakan kegiatan yang kerap dilakukan oleh perusahaan-perusahaan luar negeri, terutama di negara-negara maju. Jadi, pada akhir pekan atau waktu yang sudah disepakati, seluruh karyawan atau minimal satu departemen, akan melakukan perjalanan bersama. Tidak ada pembahasan tentang pekerjaan, hanya aktivitas yang menghibur sekaligus mengeratkan ikatan emosional antar karyawan.

Acara bisa digelar dengan menyewa penginapan atau bahkan camping ground, kemudian dilakukan aktivitas berupa permainan outdoor yang membutuhkan kerja sama tim untuk memenangkannya. Sekali lagi, dalam kegiatan seperti ini pun diperlukan partnership silang agar karyawan multigenerasi dapat saling berinteraksi dengan lebih baik, sehingga rasa kekeluargaan di perusahaan menjadi lebih erat.

4. Seminar Untuk Mengubah Mindset

Sejatinya, kendala utama dari ketidakharmonisan pegawai lintas generasi sebuah perusahaan adalah mindset. Ketika para karyawan sudah memiliki pola pikir untuk tidak berbaur dengan generasi berbeda, maka bila mindset tersebut tidak diubah, akan sulit untuk memperbaiki situasi di perusahaan. Seminar ESQ merupakan salah satu metode efektif untuk mengubah pola pikir demikian.

Dampak Bila Perusahaan Hanya Mempekerjakan Satu Generasi

Kadang, pemilik perusahaan tidak ingin menempuh cara yang sedikit sulit untuk menghilangkan kesenjangan sosial antar karyawan lintas generasi. Mereka kemudian memilih metode yang cepat, yaitu merekrut hanya satu generasi saja. Jika menginginkan yang berpengalaman, mereka hanya mempekerjakan generasi tua atau transisi, sedangkan yang bergerak di industri kreatif memilih kelompok millennial.

Padahal, keseragaman semacam itu justru berdampak negatif pada aspek lain dari perusahaan. Antara lain:

  • Tidak terjadinya regenerasi bila hanya mempekerjakan generasi tua dan transisi. Ketika kelompok tersebut mendekati masa pensiun, perusahaan akan kebingungan dalam mencari tenaga pengganti.
  • Bila mempekerjakan hanya generasi millennial saja, mereka akan sulit untuk terkontrol akibat ego yang masih tinggi. Terlebih bila tidak ada yang dituakan dalam perusahaan.

Sebab itu, karyawan multigenerasi diperlukan untuk kemajuan perusahaan sendiri. Tentunya dengan sedikit upaya dari organisasi terkait, keharmonisan antar generasi tersebut dapat tercipta. 

Urbanhire merupakan suatu platform rekrutmen terkemuka di Indonesia, yang membantu rekruter dengan menyediakan teknologi ATS (Applicants Tracking System), posting job ke platform multi-channel dan online assessment.