Urbanhire Jobseeker

Transisi New Normal: Dampak Tersembunyi Terhadap Kesehatan Mental Karyawan

28

Jul 2020

Urbanhire – Kesehatan mental pada masa transisi new normal ketika para pekerja sudah kembali bekerja di kantor pasti akan terganggu. Dimana sebelumnya selama pandemi mengharuskan para pekerja bekerja dari rumah atau work from home. Transisi pada mode bekerja di rumah dan kembali ke kantor di masa new normal menimbulkan banyak kekhawatiran dan kecemasan yang dirasakan oleh para pekerja maupun stakeholder lainnya karena penularan COVID-19 masih masif dimana-mana dan belum ditemukannya vaksin. Maka dari itu, kegelisahan para pekerja membuat para HR menerima banyak keluhan dari karyawan. Fenomena ini akan berpengaruh kepada mental health atau kesehatan mental.

Apa itu Kesehatan Mental?

Kesehatan mental didefinisikan sebagai keadaan kesejahteraan di mana setiap individu menyadari potensinya sendiri, dapat mengatasi tekanan kehidupan yang normal, dapat bekerja secara produktif, dan mampu membuat kontribusi untuk komunitasnya (WHO)

Dampak COVID-19:

  1. Membatasi pergerakan (Di Indonesia, disebut sebagai PSBB) sebagai bagian dari intervensi untuk menurunkan risiko Covid-19.
  2. Orang-orang mulai mengubah rutinitas harian seperti kerja dari rumah, belajar dari rumah, kurangnya kontak fisik karena harus menjaga jarak dan munculnya pengangguran.
  3. Anak-anak cenderung mengalami perasaan yang mirip seperti karyawan. Sekolah dan perkantoran telah ditutup, tidak lagi merasakan rasa struktur dan stimulasi karena sedikitnya kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain. Hilangnya dukungan sosial akan berpengaruh kepada kesehatan mental. Dampak psikologis untuk populasi ini adalah kecemasan dan perasaan stres. Hal ini diakibatkan karena merasa terisolasi dan mengalami kesepian, dan ini memperburuk kondisi kesehatan mental

Dampak-dampak di atas yang disebabkan oleh COVID-19 menjadi hal yang saat ini menjadi perhatian baru oleh para HR dengan melihat sisi kesehatan mental karyawan. Oleh karena itu, sebagai seorang HR yang menjadi divisi pemberdayaan sumber daya manusia, seharusnya dapat memahami cara-cara apa yang sebaiknya dilakukan jika mendapati kondisi seperti pandemi ini yang berkaitan dengan kesehatan mental karyawan. Berikut cara-cara merawat kesehatan mental baik untuk diri sendiri maupun sebagai HR.

Cara Merawat Kesehatan Mental

Perawatan Diri (Self-care)

HR dapat memberikan saran atau sumber yang bisa dipakai untuk karyawan ketika ingin melakukan perawatan diri. Berikut cara yang bisa dilakukan dan dibagikan kepada karyawan dengan teknik “Self Care Apple Techniques” :

  • Sadar diri dan mengakui bahwa ada yang tidak wajar dalam diri
  • Jangan dibiarkan dan bertindak layaknya dalam keadaan normal. Cobalah untuk berhenti sejenak dan ambil nafas
  • Beritahu pada diri sendiri bahwa ini hanyalah kekhawatiran yang tidak berdasarkan fakta.
  • Lepaskan kekhawatiran tadi dan bayangkan seperti gelembung yang terbang lalu pecah menghilang.
  • Jelajahi apa yang kamu lihat dan rasakan keadaan sekitar saat ini. Lakukan seperti ketika sedang yoga atau meditasi.

Jika salah satu dari hal-hal ini mengganggu aktivitas sehari-hari dan berada di luar norma, hubungi penyedia bantuan:

  • Kesulitan fokus pada kegiatan sehari-hari
  • Kecemasan yang berubah menjadi tak terkendali
  • Muncul perasaan yang mengganggu pikiran dan kegiatan sehari-hari
  • Emosi yang sulit di kontrol
  • Muncul perasaan putus asa yang berlebihan

Manajemen/Korporasi

Lima langkah yang harus diambil setiap pemimpin dan manajer untuk menciptakan “Budaya Peduli” selama pandemi:

  • Proaktif

Aktifkan semua manajer dan pemimpin untuk menjadi lebih empatik dan penuh perhatian. 38% lebih karyawan mungkin akan mengatakan kesehatan mental mereka menurun sejak wabah pandemi. Pertanyaan sederhana seperti “apakah Anda baik-baik saja?” sangat berarti untuk mereka

  • Menjadi Pendengar Suportif

Terkadang tidak harus memberikan solusi, cukup untuk menjadi sosok yang mau mendengarkan keluh kesah akan sangat membantu. Semakin cepat orang menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam hal ini, semakin baik untuk saling mendukung.

  • Bersikap Konsisten

Komunikasi yang konsisten dari manajer sangat penting untuk memastikan orang merasa mendapat dukungan.

  • Seluruh Organisasi Dalam Satu Nadi

Seluruh anggota organisasi harus dalam satu pandangan dan tujuan. Jadi tidak hanya pemimpin yang bertanggung jawab, para pemimpin juga harus dipastikan dalam keadaan sehat. Dalam artian semua saling menjaga dalam satu tujuan. HR dapat menjalankan pulse survey untuk memastikan semua anggota dalam keadaan baik mentalnya

  • Komunikasikan Sumber Informasi Tentang Kesehatan Mental

HR dapat memberikan sumber informasi tentang kesehatan mental. Menurut survei jika perusahaan aktif dalam memberikan informasi tentang kesehatan mental, 60% karyawan menilai bahwa perusahaan mereka peduli dengan kesejahteraan mereka

Tips Mendukung Kesehatan Mental di Perusahaan Anda:

  1. Jadikan kesejahteraan karyawan sebagai prioritas utama Anda
  2. Bagikan informasi yang akurat, tepat waktu, dan transparan
  3. Ambil tindakan cepat untuk menerapkan tindakan kesehatan masyarakat yang direkomendasikan
  4. Latih pemimpin, manajer, dan kolega tentang cara mendukung karyawan
  5. Tawarkan fleksibilitas

Penting bagi para HR dan setiap individu untuk memperhatikan kesehatan mental diri sendiri maupun orang-orang di sekitar. Apabila kesehatan mental tidak bisa diatasi secara sendiri, harap bicara dengan orang terdekat atau langsung datangi konselor atau psikolog.

Artikel ini merupakan rangkuman dari acara Urbanhire WebTalk Vol. 07 dengan tema “Transition to New Normal: The Hidden Impact on Employee Mental Health” yang menghadirkan dua pembicara yaitu Ibu Wenny Halim (CEO & Co founder, Empatia Talenta Indonesia) dan Ibu Ni Wayan Yadnya Wati – (Head of Human Capital, Indonesia Stock Exchange) pada 7 Juli 2020. Lihat rekaman webinar secara lengkap dengan klik di sini dengan memasukkan password 4A#w723c.