Urbanhire Jobseeker

Turnover Karyawan Tinggi? Perbaiki Strategi Retensi Anda!

15

Oct 2018

Blog

Kehilangan atau turnover karyawan, terutama dalam jumlah besar, merupakan kerugian besar bagi sebuah perusahaan. Apalagi jika karyawan tersebut adalah karyawan yang berbakat. Bukan hanya kehilangan sumber daya manusia, perusahaan juga akan mengalami penurunan produksi dan sumber finansial. Belum lagi, perusahaan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk melakukan perekrutan dan pelatihan karyawan baru. Jika perusahaan mengalami turnover karyawan tinggi, maka perlu dilakukan beberapa strategi untuk mencari solusi permasalahan tersebut.

Mengapa Banyak Karyawan Memilih Berpindah Pekerjaan?

Menurut sebuah penelitian Retention Report tahun 2017, ada 3 alasan spesifik mengapa banyak karyawan yang memilih meninggalkan pekerjaannya dan berpindah ke pekerjaan lain, meliputi:

  1. Pengembangan karir

Karyawan cenderung bergabung ke dalam sebuah perusahaan untuk berinvestasi ke perkembangan karir mereka ke depannya. Apabila perusahaan tidak mampu memvisualisasikan potensi pengembangan karir serta langkah-langkah yang harus ditempuh secara jelas, maka karyawan akan merasa terabaikan. Prospek perusahaan yang terbatas ini membuat karyawan akan berusaha mencari perusahaan lain yang mampu memberikan kesempatan baginya untuk berkembang.

  1. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi

Meningkatnya popularitas perusahaan rintisan (startup) membuat karyawan semakin banyak yang mencari perusahaan yang lebih fleksibel dan akomodatif terhadap work-life balance mereka. Karyawan mulai mencari program-program perusahaan yang dapat dipersonalisasikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Program ini termasuk kemungkinan memilih tunjangan sesuai dengan kebutuhan. Sebagai contoh, karyawan senior yang sudah berkeluarga biasanya lebih memilih rencana tabungan dan pendidikan anak. Sedangkan, karyawan muda biasanya lebih tertarik pada diskon perawatan tubuh atau perjalanan. Jika ada perusahaan yang bisa menawarkan fleksibilitas seperti ini, maka karyawan cenderung akan berpindah ke perusahaan tersebut.

  1. Perilaku atasan

Perilaku atasan yang tidak menyenangkan bisa menjadi alasan karyawan ingin pindah kerja. Perilaku atasan yang baik sangatlah penting karena dapat mempengaruhi kepuasan karyawan. Atasan yang baik seharusnya mau memberikan apresiasi dan pujian yang tulus atas kerja karyawannya. Atasan juga sebaiknya menjadi pendengar yang baik, mau mengakui kesalahan, melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan menghargai kontribusi setiap karyawannya. Apabila atasan tidak bisa bersikap seperti di atas, maka tingkat loyalitas karyawan padanya akan rendah.

Strategi Mencegah Turnover Tinggi

Apabila dilihat secara garis besar, ketiga alasan turnover karyawan di atas bisa dikategorikan ke dalam satu payung permasalahan yaitu ketidakmampuan dalam memenuhi ekspektasi dan kebutuhan karyawan. Maka dari itu, perusahaan seharusnya lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dan ekspektasi karyawannya melalui penguatan strategi retensi.

Strategi retensi meliputi upaya yang dilakukan perusahaan untuk mempertahankan lingkungan pekerjaan yang mendukung karyawan yang bekerja di dalamnya. Kebijakan retensi yang diterapkan perusahaan biasanya ditujukan untuk memenuhi berbagai kebutuhan karyawan. Dengan begitu, kepuasan pekerjaan karyawan dapat meningkat serta mengurangi biaya tambahan untuk merekrut dan melatih karyawan baru.

Berikut adalah strategi retensi yang sebaiknya diterapkan pada sebuah perusahaan.

  • Membuat pelatihan karyawan baru sukses sejak awal

Pelatihan karyawan baru yang sukses sangat mempengaruhi kesuksesan retensi pula. Pada saat pelatihan, perusahaan harus bisa mencapai 3 hal. Pertama, perusahaan harus bisa membuat karyawan memahami apa yang membuat perusahaan unik. Kedua, perusahaan harus mengkomunikasikan bagaimana skill dan pencapaian kerja karyawan dapat membantu mencapai tujuan perusahaan. Terakhir, perusahaan harus membantu karyawan mengalami secara langsung misi dan nilai-nilai perusahaan. Dengan membangun koneksi emosional sejak awal, maka karyawan akan merasa lebih terkoneksi dengan peran, rekan kerja, manajer, dan perusahaan.

Meskipun demikian, banyak perusahaan juga mengalami kegagalan. Hal ini terjadi ketika perusahaan bagus dalam menceritakan kisah perusahaannya, tetapi justru menjadi terlalu fokus pada perusahaan sehingga membuat karyawan merasa terabaikan. Seharusnya, perusahaan mengambil pendekatan yang berbeda. Manajer bisa duduk bersama karyawan baru dan mendiskusikan pengalaman mereka. Diskusikan bagaimana skill karyawan dapat membantu melaksanakan pekerjaannya dan mencapai tujuan perusahaan. Ketika karyawan merasa dibutuhkan dan pekerjaan yang mereka lakukan sangat diapresiasi perusahaan, maka performa mereka pun akan meningkat pula.

  • Kultur, Koneksi, dan Kontribusi

Strategi retensi akan sukses apabila didukung oleh 3 pilar, yaitu kultur, koneksi, dan kontribusi. Kultur perusahaan bisa menjadi faktor penting dalam memenuhi ekspektasi dan kebutuhan karyawan. Kultur perusahaan tercipta melalui pengalaman karyawan dengan rekan kerja, manajer, dan atasannya. Mempertahankan ligkungan kerja yang kondusif untuk menciptakan pengalaman kerja yang positif merupakan strategi retensi yang efektif. Kultur ini biasanya dikaitkan dengan tingkat generasi karyawan. Karyawan dari generasi X biasanya lebih suka lingkungan kerja yang menjamin stabilitas dan keamanan finansialnya. Sementara itu, karyawan dari generasi Y lebih tertarik pada perusahaan yang mendukung pengembangan karirnya.

Selanjutnya, koneksi adalah pilar kedua. Koneksi bisa dalam bentuk menciptakan hubungan kerja yang positif dan produktif dengan rekan kerja. Bentuk lainnya yaitu menciptakan kehidupan kerja yang seimbang. Karyawan tentunya lebih menyukai pekerjaan yang menawarkan waktu untuk kepentingan pribadi atau tetap bisa terkoneksi dengan kehidupan di luar pekerjaan, seperti menjalani hobi. Jadi, karyawan tidak begitu terbebani dengan pekerjaannya. Artinya, karyawan membutuhkan fleksibilitas kerja agar bisa rehat dari pekerjaan sejenak.

Kontribusi dalam hal ini merupakan upaya yang dilakukan manajemen perusahaan untuk mencari tahu kemampuan apa yang paling kuat dari seorang karyawan. Dengan begitu, perusahaan bisa memanfaatkan kemampuan tersebut semaksimal mungkin. Sayangnya, banyak manajer yang justru terlalu fokus untuk memperbaiki kelemahan karyawan, sehingga kemampuan mereka justru terabaikan.

  • Memberikan kesempatan karyawan untuk mengembangkan karir

Perusahaan seharusnya memiliki manajer yang mampu mengembangkan karir bawahannya secara positif. Perusahaan seharusnya tidak membatasi karyawan untuk mengekspresikan ide, preferensi, ekspektasi, dan keinginannya, selama hal tersebut tidak melanggar etika kerja. Sebagai contoh, perusahaan bisa meminta karyawan untuk memberikan feedback terhadap suatu proyek. Bukan feedback dalam bentuk angka, tetapi alasan mengapa mereka memberikan feedback tersebut, hal apa yang sebaiknya ditambahkan, atau apa hal penting bagi mereka, dan sejenisnya.

Sudahkah perusahaan Anda menerapkan strategi retensi di atas?


Urbanhire merupakan perusahaan penyedia Applicant Tracking System (ATS) yang dapat digunakan oleh recruiter untuk mendapatkan kandidat terbaik dengan satu platform.